BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teknologi merupakan segala macam
sarana yang menyediakan barang yang diperlukan untuk kenyamanan dan kelanjutan
hidup manusia.Teknologi akan selalu berkembang seiring dengan rasa ketidak
puasan manusia dalam menjalani hidupnya. Teknologi informasi dan komunikasi
merupakan salah satu yang berkembang dengan pesat. Hal ini tidak lain karena
dukungan jaringan internet yang sudah banyak tersedia dimana-mana.
Komunikasi sudah menjadi sebuah
kebutuhan mutlak pada saat ini. Sarana komunikasi yang baik dibutuhkan untuk
mendukung terciptanya komunikasi tersebut. Salah satu penyedia layanan
komunikasi yang umum digunakan adalah Public
Switched Telephone Network (PSTN). Salah satu teknologi yang dapat menjadi
alternatif untuk kebutuhan komunikasi adalah Voice Over Internet Protocol (VoIP).
VoIP merupakan teknologi yang dapat
melakukan panggilan suara, video dan data melalui jaringan internet. Teknologi
ini dapat diterapkan untuk memanfaatkan jaringan internet yang ada selain hanya
untuk sekedar mentransmisikan sinyal suara dengan mengubahnya ke dalam bentuk
digital, dan dikelompokkan menjadi paket-paket data yang dikirim dengan
menggunakan platform IP (Internet
Protokol). Tekonologi VoIP ini tumbuh dengan cepat dan populer karena dapat
membuat biaya panggilan telepon menjadi lebih murah bila dibanding dengan
menggunakan jaringan PSTN. Tetapi dalam pengembangannya, VoIP mengalami kendala
untuk membuat kualitas VoIP setara dengan PSTN. [1]
Semakin besarnya pengguna layanan
VoIP, menuntut sebuah server yang
memiliki spesifikasi sumber daya yang cukup tinggi. Karena, selain faktor
bandwith, dalam sistem VoIP performa server
sangat berpengaruh pada kualitas service
VoIP yang dihasilkan. Semakin besarnya spesifikasi sebuah server VoIP, maka semakin bagus pula kualitas layanan yang
dihasilkan. Parameter kualitas layanan VoIP, dapat diukur dari delay, jitter, packet loss, dan mos yang
terjadi pada saat server VoIP
digunakan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pada
penulisan ini akan Membuat Sebuah Sever VoIP, sebagai solusi untuk meningkatkan QoS (Quality of Services) dari sebuah layanan VoIP dengan server tunggal. Setelah itu, akan dilakukan perbandingan terhadap
QoS (Quality of Services) yang dihasilkan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari latar belakang diatas dapat
disimpulkan beberapa, pokok permasalahan yaitu :
1.
Bagaimana spesifikasi kebutuhan
perangkat keras yang digunakan untuk membangun server VoIP, agar mampu
menangani banyak panggilan.
2.
Bagaimana pengaruh performa server
terhadap QoS (Quality of Service)
yang dihasilkan dari sebuah layanan VoIP.
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah digunakan agar
penelitian dalam penulisan ini menjadi lebih fokus dan terarah. Berikut adalah
batasan masalah yang ada pada pembuatan penulisan ini.
1.
Aplikasi server VoIP yang digunakan adalah Asterisk.
2.
Sistem
operasi yang digunakan untuk server
adalah Linux Debian 6.
3.
Aplikasi
untuk menghubungkan perangkat server
dengan client yaitu Virtual Box.
4.
Sistem
operasi yang digunakan untuk client yaitu
adalah Windows 7.
5.
Softphone yang digunakan adalah X-Lite
versi 3.
1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan
penulisan ini adalah.
1.
Membangun server VoIP berbasis wireless dengan menggabungkan beberapa
komputer dengan spesifikasi yang rendah.
2.
Meningkatkan
performa server VoIP tunggal dengan wireless, untuk meningkatkan QoS (Quality of services) yang dihasilkan layanan VoIP.
3.
Menghubungkan
perangkat komputer dengan perangkat komputer agar dapat berkomunikasi satu sama lain di
jaringan VoIP.
1.5 Metode Penelitian
Dalam penyusunan penulisan ini,
penulis menggunakan metode studi pustaka. Pada metode ini penulis mempelajari
buku-buku yang berhubungan dengan VoIP dan referensi-referensi yang diperlukan untuk
menyelesaikan penulisan ilmiah ini.
1.6 Perencanaan dan Analisis
Tahap awal yang
dilakukan oleh penulis adalah merencanakan konsep dasar dan protoype dari
aplikasi serta menganalisis hal-hal yang dibutuhkan dalam pembuatan aplikasi
menggunakan Cisco Packet Tracer.
1.6.1 Perancangan Umum
Dalam tahap ini,
penulis akan melakukan perancangan tampilan dari VoIP yang akan dibuat. Dalam
merancang program ini, penulis menggunakan flowchart
untuk menggambarkan alur dari panggilan VoIP untuk mempermudah dalam
pembuatan VoIP.
1.6.2 Implementasi
Penulis
mengimplementasikan hasil rancangan ke dalam sistem operasi debian sebagai server dan windows 7 sebagai client, sedangkan software yang
digunakan untuk server adalah asterisk dan untuk client yaitu Softphone X-Lite.
1.6.3 Uji Coba
Tahap ini adalah
tahap akhir dari pembuatan VoIP yaitu dengan mencoba jaringan VoIP yang telah
dibuat pada beberapa sampel client
bersistem operasi Windows 7.
1.7 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika dari penulisan ini adalah :
1.
BAB I :
PENDAHULUAN, yaitu berisi Latar Belakang Masalah, Batasan Masalah, Tujuan
Penulisan, Metode Penulisan, dan Sitematika Penulisan.
2.
BAB II :
LANDASAN TEORI, yaitu berisi tentang Landasan teori untuk menunjang
penyelesaian masalah dalam penulisan ini. Landasan teori yang diberikan
meliputi: Teori dasar VoIP, Pengenalan IP Address, Jaringan Komputer,
software-software VoIP, bagian-bagian server VoIP.
3.
BAB III :
METODE PENELITIAN, yaitu berisi tentang cara penginstalan perangkat lunak,
software penunjang VoIP, cara menggunakan program VoIP pada Softphone X-Lite.
4.
BAB IV :
PEMBAHASAN, yaitu berisi tentang Membahas prinsip kerja aplikasi, menjalankan
aplikasi, konfigurasi dan hasil program yang telah dikerjakan serta analisa
dari sistem yang sudah dibuat tentang prinsip kerja VoIP.
5.
BAB V :
PENUTUP, yaitu berisi tentang kesimpulan dan saran untuk keperluan penerapan
maupun penulisan selanjutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
VoIP (Voice Over Internet Protocol)
Voice
Over Internet Protocol atau VoIP adalah teknologi yang memungkinkan percakapan
suara jarak jauh melalui media internet. Data suara diubah menjadi kode digital
dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data, dan bukan
lewat sirkuit analog telepon biasa. Definisi VoIP adalah suara yang dikirim
melalui protokol internet (IP). Pada
jaringan suara konvesional pesawat telepon langsung terhubung dengan PABX (Privat Automated Branch exchange) atau
jika milik TELKOM terhubung langsung dengan STO (Sentral telepon Otomat) terdekat.
Dalam
STO ini ada daftar nomor-nomor telepon yang disusun secara bertingkat sesuai
dengan daerah cakupannya. Jika dari pesawat telepon tersebut mau menghubungi
rekan yang lain maka tuts pesawat telepon yang ditekan akan menginformasikan
lokasi yang dituju melalui nada-nada DTMF, kemudian jaringan akan cara otomatis
menghubungkan kedua titik tersebut.
Bentuk
paling sederhana dalam sistem VoIP adalah dua buah komputer terhubung dengan
internet. Syarat-syarat dasar untuk mengadakan koneksi VoIP adalah komputer
yang terhubung ke internet, mempunyai kartu suara yang dihubungkan dengan
speaker dan mikropon. Dengan dukungan perangkat lunak khusus, kedua pemakai
komputer bisa saling terhubung dalam koneksi VoIP satu sama lain.[1]
Untuk
membuat sistem VoIP, ada beberapa variasi penyambungan. Ada koneksi dari
komputer ke komputer dengan berbekal sound card dan head-set melalui jaringan
LAN maupun internet merupakan solusi paling murah tetapi cukup merepotkan,
karena kedua sisi harus memiliki komputer dan perangkat lunak (Softphone) yang
sama. Ada juga melalui komunikasi suara dari komputer ke pesawat telepon IP (IP
Phone) maupun pesawat telepon biasa yang menggunakan gateway.[2]
2.2
Sejarah VoIP ( Voice Over Internet Protocol)
Sejarah Perkembangan teknologi VoIP dimulai dari penemuan telepon pada
tahun 1876 oleh Alexander Graham Bell. Kemudian dikembangkan lagi teknologi PSTN ( Public Switched Telephone Network )
yang sudah berkembang sampai sekarang. Beberapa tahun kemudian mulai berkembang
teknologi yang baru. Pembuatan Personal Computer (PC) secara massal, system
komunikasi telepon selular dan terakhir system berdasarkan jaringan internet
yang memberikan layanan e-mail, Chat dan lain-lain.
Teknologi VoIP diperkenalkan setelah internet mulai berkembang sekitar
tahun 1995. Pada mulanya kemampuan mengirimkan suara melalui internet hanya
merupakan eksperimen dari beberapa orang atau perusahaan kecil. Ini dimulai
dengan perusahaan seperti Vocaltech
dan kemudian pada akhirnya diikuti oleh
Microsoft dengan program Netmeeting-nya.
Pada saat itu jaringan komputer internet masih sangat lambat. Di rumah-rumah
(khususnya di Amerika) masih digunakan dial-up dengan kecepatan 36,6 Kbyte.
Backbone Internet pun masih kecil. Aplikasi yang bersifat menghabiskan
bandwidth, seperti misalnya suara atau video, masih sangat terbatas
penggunaannya di pusat penelitian yang memiliki bandwidth besar.
Untuk di Indonesia komunitas pengguna atau pengembang VoIP di masyarakat,
berkembang di tahun 2000. Komunitas awal pengguna atau pengembang VoIP adalah
“VoIP Merdeka” yang dicetuskan oleh pakar internet Indonesia, Onno W. Purbo.
Teknologi yang digunakan adalah H.323 yang merupakan teknologi awal VoIP.
Sentral VoIP Merdeka di 4 hosting di Indonesia
Internet Exchange (IIX) atas dukungan beberapa ISP dan Asossiasi Penyelenggara Jaringan Internet (APJII). Di tahun 2005,
Anton Raharja dan tim dari ICT Center Jakarta mulai mengembangkan VoIP jenis
baru berbasis Session Initiation Protocol
(SIP). Teknologi SIP merupakan teknologi pengganti H.323 yang sulit
menembus proxy server. Di tahun 2006, infrastruktur VoIP SIP di kenal sebagai
VoIP Rakyat.[1]
2.3
Parameter Quality of Services (QOS)
Sebagai
jaringan yang didesain sejak awal sebagian jaringan komunikasi data, jaringan
internet mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan jaringan
telpon. Data mengalir di internet memperebutkan bandwidth yang ada. Kecepatan
sampainya data tergantung pada banyak dan besar paket data diperlakukan dengan
perlakukan yang sama. Kondisi jaringan yang seperti ini berbeda dengan jaringan
telepon biasa, dimana satu kanal hanya dikhususkan untuk satu pembicara
telepon. Tidak terdapat perebutan bandwidth disana, akibatnya, kualitas
suarapun terjaga.
QOS
adalah suatu hasil kolektif dari berbagai parameter performansi yang dapat
menjadi patokan untuk menentukan tingkat kepuasan user terhadap suatu layanan
yang dipakai. Umumnya QOS dikaji dalam kerangka peningkatan dan pengoptimalan
kapasitas suatu jaringan untuk melakukan layanan tertentu. Parameter-parameter
yang dipakai untuk pengukuran QOS yaitu delay/lantency, delay variation serta
packet loss.
2.3.1
Delay / Latency
Delay
merupakan waktu antara inisiasi suatu transaksi oleh suatu pengirim sampai ada
respon pertama yang diterima oleh pengirim tersebut. Selain itu merupakan waktu
yang diperlukan untuk memindahkan paket dari sumber ke tujuan melalui jalur
yang sudah ditentukan. Percakapan interaktif menjadi terganggu ketika delay
melebihi 100-150 ms, ketika melebihi 200 ms pemakai akan menemui gangguan dan
menyatakan bahwa kualitas suara itu sangat lemah. Untuk menyediakan kualitas
suara yang tinggi, jaringan IP Telephony harus mampu menjamin latency yang
rendah. ITU-T G.114 merekomendasikan batas maksimum yang diterima dalam
perjalanan paket adalah 300 ms antara kedua gateway IP Telephony (150 ms delay
per jalur).
Ada
banyak komponen dari delay dalam sebuah jaringan yang perlu dipahami, termasuk
di dalamnya adalah packetization delay, queuing delay dan propagation delay.
a.
Packetization delay adalah
jumlah waktu yang diperlukan untuk mengambil codec yang digunakan untuk
melengkapi konversi dari analog ke digital. IP Telephony selalu menciptakan beberapa
ukuran delay, ketika algoritma yang mennspesifisikan “listen” atau contoh dari
suara yang dispesifikasi dalam periode waktu tertentu, diikuti oleh
packetization.
b.
Propagation delay adalah
waktu yang diperlukan untuk mengambil informasi melewati sebuah kabel copper,
fiber atau jalur wireless. Delay ini juga merupakan sebuah fungsi dari
kecepatan cahaya, konstanta yang universal dan kecepatan pensinyalan dari media
fisik. Sebagai contoh jika sebuah panggilan sudah melalui sebuah node transit
maka delay diperkenalkan.
c.
Queuing delay dibebankan
kepada suatu paket pada titik congestion (lalu lintas pada jaringan melebihi
kapasitas) ketika menantikan putarannya untuk diproses sementara paket yang
lain yang dikirim sebuah switch atau kabel. Sebagai contoh, ATM yang dikurangi
queuing delay-nya dengan membagi paket ke dalam bagian kecil, membungkus mereka
ke dalam sebuah sel, lalu meletakkan mereka ke dalam sebuah prioritas antrian
yang absolut. Karena sel-sel tersebut kecil maka prioritas queue yang terbesar
dapat dilayani lebih sering, mengurangi waktu tunggu untuk paket dalam sebuah
antrian ke dalam level yang deterministic. Bagaimanapun juga pada kecepatan
gigabit, waktu tunggu untuk lalu lintas yang mempunyai prioritas tinggi sangat
kecil sekali bahkan dibagai kondisi yang terburuk dalam kaitannya dengan
kecepatan link dan daya proses yang tersedia.

Gambar 2.5 Rumus Delay
2.3.2
Delay Variation
(Jitter dan Wander)
Delay variation adalah perbedaan pada penundaan yang diperlihatkan
oleh paket berbeda yang menjadi bagian dari arus lalu lintas yang sama.
Frekuensi tinggi pada delay variation dikenal sebagai jitter, sedangkan
frekuensi rendah pada delay variation disebut wander. Jitter disebabkan
terutama oleh perbedaan dalam antrian waktu menunggu untuk paket yang berurutan
di dalam suatu arus. Jenis lalu lintas tertentu terutama real-time lalu lintas
seperti suara adalah sangat tidak toleran dalam jitter. Perbedaan waktu tiba
paket menyebabkan choppiness di dalam suara. Jitter berlebihan dapat diatasi
dengan penyangga, tetapi dapat menyebabkan permasalahan lain, seperti peristiwa
“walkie-talkie” yang disebabkan ketika dua sisi suatu percakapan mempunyai
latency. Jitter harus kurang dari 60 ms (60 ms = rata-rata mutu, 20 ms = mutu
bea).
2.3.3
Packet Loss
Kerugian akibat kesalahan bit maupun paket yang hilang
mempunyai suatu dampak lebih besar atas jasa IP Telephony atau VoIP dibanding pada data. Selama suatu transmisi
suara, hilangnya berbagai bit atau paket suatu arus boleh menyebabkan suatu
letusan dapat didengar yang akan menjadi mengganggu kepada pemakai. Di dalam
suatu transmisi data, hilangnya bit tunggal atau berbagai paket informasi
hampir tidak pernah dicatat oleh para pemakai. Di dalam kontras, selama suatu
siaran video, paket berurutan yang hilang dapat menyebabkan suatu glitch sesaat
pada layar, tetapi video kemudian berproses sama dengan dulu.
Bagaimanapun jika paket hilang menjadi mewabah, kemudian mutu dari semua transmisi
menurunkan pangkat. Tingkat kerugian paket harus kurang dari 5% untuk mutu
minimum dan kurang dari 1% untuk mutu bea. Hal yang dapat mempengaruhi packet loss ratio adalah penentuan
ambang batas delay dan drop probability pada algoritma penjadwalan.
Gambar 2.6 Rumus Packet Loss
2.4 Sinyal Informasi
Data adalah suatu jenis informasi yang disimpan atau
didapatkan kembali pada sebuah komputer. Oleh karena itu, jaringan mentransfer
data dari satu komputer ke komputer yang lain. Data tersebut dapat berupa pesan
e-mail, file, web page, video, musik dan lain sebagainya.
Sistem komunikasi jaringan pada komputer melambangkan
data dengan menggunakan kode-kode yang diwakili secara efisien alat-alat
elektronik dan gelombang radio. Sinyal tersebut membawa informasi melalui
sistem dari satu titik ke titik yang lain. Sinyal tersebut dapat berupa sinyal
digital atau analog.[9]
2.4.1 Sinyal Digital
Sinyal
pada komputer memiliki irama amplitudo yang berubah dari waktu ke waktu. Sinyal
digital pada gambar 2.7 biasanya berupa bilangan biner (dua digit), sehingga
disebut dengan rangkaian digit biner (bit) atau data biner. Untaian digital
dalam komputer dengan mudah menyimpan dan mengolah sinyal-sinyal digital
tersebut ke dalam bentuk biner.

Gambar 2.7 Sinyal Digital Ideal pada komputer
Bilangan
biner merupakan sebuah sistem yang hanya menggunakan 0 dan 1 untuk
merepresentasikan angka-angka. Konversi dari sistem bilangan desimal ke
bilangan biner mudah dijalankan tinggal menyimpan bilangan biner tersebut.
Salah
satu kelebihan sinyal digital adalah lebih mudah diperbaiki. Saat sinyal
merambat melalui medium udara, sinyal tersebut dapat berbenturan dengan suara
atau gelombang yang dapat merubah sinyal. Untuk mengatasi memperbaiki sinyal
tersebut, maka untaian digital dapat mendeteksi jika ada denyut dalam periode
waktu tertentu dan membuat denyut baru yang sama dengan denyut digital yang
dikirim sebelumnya. Sinyal digital dapat menjangkau jarak jauh melalui periodik
repeater sambil melindungi integritas informasi. Berikut ini hal-hal yang
menetapkan karakteristik penting pada sinyal digital:
- Kecepatan Data
Kecepatan data
menyesuaikan dengan kecepatan yang ditransfer sinyal digital. Karena itu
kecepatan data pada sinyal digital memberikan beberapa informasi mengenai
lamanya pengiriman data dari satu titik ke titik yang lain dan mengidentifikasi
jumlah bandwidth yang harus disuplai medium untuk mendukung sinyal secara
efektif. Kecepatan data dari sinyal sama dengan waktu tempuh jumlah total bit
yang ditransmisikan. Ukuran untuk kecepatan bit adalah bits per second (bps).
- Throughput
Throughput sama dengan
kecepatan data, akan tetapi kalkulasi throughput mengabaikan bit-bit yang
berhubungan dengan overhead pada protokol komunikasi. Tidak ada standar untuk
merepresentasikan throughput, kecuali jika memasukkan informasi aktual yang
dikirim menyebrangi jaringan. Karena itu, throughput memberikan solusi yang
akurat untuk merepresentasikan performa dan efisiensi jaringan yang sebenarnya.
2.4.1 Sinyal Analog
Sinyal
analog seperti ditunjukkan gambar 2.8, merupakan salah satu amplitudo sinyal
yang berubah secara terus-menerus dari waktu ke waktu.

Gambar 2.8 Sinyal Analog Membawa Informasi Melalui Medium
Udara
Pada permulaan komunikasi elektronik, sebagian besar
komunikasi elektronik mengolah sinyal dalam bentuk analog karena input
informasinya berasal dari manusia. Sinyal analog memiliki amplitudo, voltase,
energi, dan frekuensi.
BAB
III
PEMBAHASAN
DAN PERANCANGAN
3.1
Perancangan Jaringan VoIP
VoIP
dapat ditempatkan pada berbagai topologi jaringan, untuk merancang sebuah
topologi yang tepat pada jaringan VoIP terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan antara lain: lokasi, jarak, dan biaya. Semua kemungkinan yang akan
terjadi haruslah difikirkan oleh admin jaringan tersebut untuk mendapatkan
hasil yang optimal.
Dalam perancangan jaringan VoIP sederhana, penulis
menggunakan topologi vlan dengan menggunakan tiga buah perangkat keras (hardware), dimana satu unit laptop
difungsikan sebagai server yang
menggunakan asterisk, lalu satu perangkat handphone sebagai client dan sebuah jaringan wireless
(modem).
3.2
Flowchart Jaringan VoIP
Untuk
mempermudah penjelasan dari proses call, flowchart pada gambar dibawah
menjelaskan bagaimana langkah-langkah untuk menghubungi user yang lain.

Gambar 3.1 :Flowchart Proses Call
Pertama-tama
tentukan dahulu protokol apa yang akan digunakan, di sini menggunakan protokol
SIP. Bila memilih SIP maka menggunakan softphone X-Lite. Kemudian adalah
pengisian account pada masing-masing softphone, jika sesuai dengan database
pada server VoIP maka user tersebut telah berhasil melakukan registrasi,
sebaliknya jika salah maka akan timbul peringatan error pada layar softphone
dan user tersebut harus melakukan pengisian account kembali sampai data
tersebut sesuai dengan data yang ada pada server VoIP.
Setelah
berhasil melakukan registrasi maka softphone siap untuk digunakan untuk
menghubungi user lainnya. Implement merupakan tahap dimana hasil analisa dan
perencaan yang telah dibuat diterapkan, tahapan ini meliputi instalasi,
konfigurasi terhadap rancangan topologi yang sudah di buat. Setelah itu
memasuki tahapanOperate dimana dalam tahapan ini dilakukan pengujian sesuai
dengan parameter.
3.3
Instalasi, Konfigurasi Server dan Client Jaringan VoIP
Implementasi
sederhana yang dapat dilakukan dari aplikasi VoIP adalah melakukan komunikasi
antar komputer menggunakan softphone dan headset yang dilengkapi dengan
mikrofon dan speaker.
- Langkah selanjutnya adalah konfigurasi asterisk pada debian, yaitu kita akan menambahkan user/account dari server voip yang kita gunakan. Untuk melakukan konfigurasi dan menambahkan account ketikan perintah nano /etc/asterisk/sip.conf.

Gambar 3.25
:Konfigurasi Asterisk
- Kemudian kita akan menambahkan extension dari user/account yang sudah kita buat. Untuk menambahkan extension lakukan konfigurasi pada file nano /etc/asterisk/extension.conf.

Gambar 3.26 :Konfigurasi Exten di Asterisk
- Setelah melakukan konfigurasi langkah terakhir yaitu melakukan restart pada packet yang kita konfigurasi, agar konfigurasi yang kita lakukan terupdate/sukses. Untuk melakukan restart packet asterisk ketikan perintah service asterisk restart.

Gambar 3.27
:Restart Asterisk
3.3.1
Konfigurasi Asterisk Pada Debian (Client)
1
Setelah
selesai download, jalankan software X-Lite tersebut dari folder download
computer. X-Lite akan install secara otomatis Microsoft .Net Framework terlebih
dahulu.

Gambar 3.28: Install NetFrameWork X-Lite
2
Setelah
selesai install .Net Framework, maka akan muncul otomatis menu install X-Lite,
tekan tombol Next untuk proses installasi.

Gambar 3.29 :Install X-Lite
3
Proses
installasi tidak rumit, cukup ikuti perintah, sampai muncul menu berikut, lalu
tekan tombol Finish.

Gambar 3.30 : Install X-Lite Selesai
4
Konfigurasi
X-Lite, pada tahap ini akan dilanjutkan bagaimana cara untuk melakukan
konfigurasi X-Lite yang telah terinstall pada komputer. Buka program X-Lite,
setelah itu tekan tombol Account Setting. Isi konfigurasi User SIP Extensions
seperti berikut , setelah itu tekan tombol OK

Gambar 3.31 :Konfgurasi X-Lite Client
Keterangan :
·
Account
name : SIP Extension yang dibuat.
·
User ID
: Sama Seperti Account name, digunakan untuk Registration.
·
Domain :
Alamat IP Address.
·
Password
: Secret SIP Extension yang dibuat.
·
Display
name : Sama seperti Account name
·
Authorization
name : Sama Seperti Account name
5
Apabila
registration berhasil maka akan muncul keterangan “Account enabled". The
Phone is ready” dan X-Lite dapat digunakan untuk melakukan panggilan.

Gambar 3.32 :X-Lite Siap Digunakan
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1
Kesimpulan
Dari
pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa VoIP adalah Protocol Teknologi yang
menjadikan media internet untuk bisa melakukan komunikasi suara jarak jauh
secara langsung. Kualitas suara VoIP dipengaruhi oleh beberapa parameter yaitu
kapasitas bandwidth, tingkat hilang paket dan waktu tunda yang terjadi di dalam
jaringan.
Kapasitas
bandwidth adalah ketersediaan sumber daya jaringan dalam bentuk lebar pita yang
digunakan untuk mentransmisikan data paket. Tingkat hilang paket adalah
parameter yang menyatakan besarnya laju kesalahan yang terjadi sepanjang jalur
pengiriman data paket dari pengirim ke penerima. Waktu tunda adalah parameter
yang menyatakan rentang waktu yang diperlukan untuk mengirimkan paket dari
pengirim ke penerima.
4.2
Saran
Dengan
segala potensi yang ada terutama sekali biaya yang relatif murah untuk
percakapan jarak jauh, VoIP sangat berpotensi dikembangkan. Paradigma bahwa
PSTN adalah inti dari jaringan suara harus dirubah bahwa telepon analog biasa
adalah bagian dari IP Telephony, yang mengakibatkan perkembangan IPTelePhony
akan jauh berkembang dengan pesat dibandingkan telepon analog biasa.
Penggabungan jaringan tanpa dikoordinasi dengan baik akan menimbulkan kekacauan
dalam sistem penomoran
DAFTAR
PUSTAKA
[1] Purbo, Onno
W.2007.Cikal Bakal “Telkom Rakyat” (Panduan Lengkap Seting VoIP).
[2] Hidayat.2009.Teknologi Voice over
Internet Protocol (VoIP) di
Indonesia.Palembang: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sriwijaya.
[3] Lusiana,
Wiwin.2009.Membangun Server VoIP Berbasis Asterisk dengan Sistem Operasi Ubuntu
9.04. Surakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar